loader image

BEM Unsoed

Karya Resensi Terbaik Sayembara Literasi Vol 2 “Meningkatkan Sumber Daya Mahasiswa Unsoed dengan Membaca”

Sayembara Literasi Vol 2 merupakan program kerja Kementerian Pengembangan Literasi dan Keilmuan BEM Unsoed 2022 Kabinet Titik Pijar. Program kerja ini diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan minat literasi mahasiswa/i Universitas Jenderal Soedirman. Setelah melalui proses penjurian, Kementerian Pengembangan Literasi dan Keilmuan mengumumkan dua karya resensi terbaik yang dimenangkan oleh Siska dari Fakultas Pertanian yang meresensi novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori dan Diajeng Afti Nur Intan dari Fakultas Ekonomi Bisnis yang meresensi novel “Si Anak Kuat” karya Tere Liye. Kementerian Pengembangan Literasi dan Keilmuan ucapkan selamat kepada dua peserta dengan karya terbaik. Terima kasih untuk semua peserta, panitia, dan pihak yang telah berpartisipasi dalam Sayembara Literasi Vol 2.

Dua Naskah Resensi Terbaik

“Laut Bercerita” Karya Leila S. Chudori diresensi oleh Siska

A. Identitas Buku

Judul buku   : Laut Bercerita

Penulis     : Leila S. Chudori

Penerbit     : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun terbit   : 2017

Jumlah halaman   : 379

ISBN     : 978-602-424-694-5

B. Isi Resensi

PILU dan PEDIH. Dua kata yang menggambarkan perasaan saya setelah membaca novel ini. Novel karya Leila S. Chudori ini mengangkat topik yang cukup sensitif yaitu tentang penghilangan secara paksa para aktivis pada masa orde baru yang terinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi di Indonesia. Novel ini berkisah tentang pejuangan aktivis orde baru bernama Biru Laut dan kawan-kawannya. Leila S. Chudori menceritakan kisah ini menggunakan dua sudut pandang yaitu bagian pertama menggunakan sudut pandang Biru Laut dan bagian kedua menggunakan sudut pandang Asmara Jati, adik Biru Laut.

Sama seperti judul novel ini “Laut Bercerita” pada bagian pertama ini kita akan mendengarkan Laut bercerita tentang awal jiwa aktivis Laut muncul dan tentang awal pertemuan Laut dengan kawan-kawan aktivis lainnya, seperti Kinan, Bram, Sunu, Alex, Daniel, Tama, Julius, Sang Penyair, dan lain-lain. Disini kita juga akan bertemu dengan Anjani, perempuan yang memikat hati Laut dan menumbuhkan benih cinta dihatinya. Laut bercerita mengenai banyak hal, mulai dari perjuangannya menjadi aktivis, kisah cintanya dengan Anjani, dan juga tentang kehangatan keluarganya. Laut merupakan anak sulung. Orang tuanya hanya memiliki dua orang anak yaitu Biru Laut dan Asmara Jati. Bapak Laut merupakan seorang wartawan dan ibunya merupakan seorang ibu yang pandai memasak. Bagi Laut ibunya merupakan koki terhebat dan masakannya merupakan masakan terlezat yang pernah dicobanya. Keluarga Laut memiliki kebiasaan masak bersama di hari minggu sore, Ibu akan memasak makanan kesukan Laut seperti tengkleng, Bapak menyiapkan 4 piring dan menyusunnya di meja dan memasang vinyl lagu-lagi The Beatles untuk menemani makan malam sekeluarga tersebut.

Laut bercerita banyak hal terkait perjuangannya dan kawan-kawan aktivis lain. Dari mulai mecari tempat persembunyian yang aman dan jauh dari intain intel di Yogya untuk mendiskusikan buku-buku sastra terlarang dan menyusun strategi serta rencana untuk melakukan perlawanan terhadap rezim orde baru, aksi menanam jagung di Blangguan yang gagal, aksi menegangkan bersembunyi dari kejaran aparat di rumah warga, aksi menegangkan melarikan diri melalui kebun jagung, peristiwa penyiksaan pertama Laut di Bungurasih, mendapat tuduhan menjadi dalang peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996, masamasa menjadi buronan yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pulau ke pulau lain, hingga sampai pada hari penangkapan Laut yang bertepatan dengan hari ulang tahun Asmara 13 Maret 1998. Laut juga berkisah segala bentuk penyiksaan yang didapatkannya selama menjadi tahanan mulai dari dipukul, ditendang, ditampar, disentrum, diinjak, disiram air dingin, digantung terbalik, dan bentuk penyiksaan lain hingga akhir ceritanya tentang ia yang dibuang ke laut, kuburan yang sesuai dengan namanya.

Bagian kedua mengambil sudut pandang Asmara Jati. Bagian ini bercerita bagaimana Asmara menghadapi kehilangan yang ia rasakan, bukan saja kehilangan kakanya, Laut, tetapi juga kehilangan Bapak dan Ibunya yang hidup dalam dunia penuh penyangkalan, cerita tentang bagaimana kehidupan keluarga Laut dan keluarga aktivis lain yang tidak pernah kembali, serta perjuangan Komisi Orang Hilang mencari keadilan untuk mereka yang hilang pada era orde baru. Cerita tentang keluarga korban yang hilang begitu pedih. Mereka hidup dalam ketidaktahuan, ketidakpastian, dan harapan agar anak, kakak, adik, suami, kekasih yang hilang tersebut suatu saat akan kembali. Mereka hidup dalam penyangkalan dan tidak ingin menerima kenyataan pahit bahwa orang terkasih sudah pergi. Pada bagian ini juga, bercerita tentang aksi kamisan didepan istana negara yang merupakan suatu usaha perjuangan mencari keadilan bagi mereka yang hilang, mereka yang hanya mengenal Indonesia yang berbeda, yang gelap dan keras, mereka yang berjuang menciptakan Indonesia seperti sekarang tapi tidak bisa merasakannya.  

Pada bagian epilog buku ini, menyampaikan tentang perasanaan Laut yang berada di dalam laut untuk mengikhlaskan kepergiannya dan melanjutkan hidup orang-orang terkasih yang ada di darat dengan bahagia. Cerita ditutup dengan 13 keluarga korban yang hilang secara paksa berdiri melepaskan karangan bunga dan lilin ke laut sebagai bentuk keikhlasan dan peneriman terhadap kenyataan bahwa anak, kakak, adik, suami, kekasih mereka tidak akan kembali lagi tetapi akan selalu ada dalam kenangan.

C. Kelebihan

Novel ini memiliki narasi yang deskriptif, bahasa yang mudah dimengerti dan diksi yang indah yang membuat pembaca dapat membayangkan dan terbawa masuk menyelam ke dalam cerita Laut. Penggunaan diksi bahasa Indonesia yang terdengar asing seperti kata gigantik, mutung, sumir, muntab dan masih banyak lagi yang lainnya dapat memperkaya kosa kata pembaca. Riset yang mendalam yang dilakukan penulis, terlihat pada banyakanya ucapan terima kasih penulis pada pihak-pihak yang membantu terwujudnya cerita ini membuat cerita ini terasa sangat nyata dan hidup sehingga pembaca dapat terbuai dan merasakan suasana dan perasanaan yang dialami tokoh. Penggunaan bahasa yang ringan memudahkan pembaca membangun emosi, terbuai oleh kata dan kalimat sehingga tanpa disadari air mata mengalir membayangkan pedihnya penyiksaan dan penganiayaan yang dialami para aktivis pada era orde baru, membayangkan tegangnya melarikan diri  dan bersembunyi dari kejaran aparat atau intel, membayangkan betapa sedihnya keluarga yang selalu menanti kepulangan anak, kakak, adik, suami, kekasih yang tak pernah kunjung kembali. Novel ini berhasil menyeret pembaca untuk benar-benar merasakan perasaan sakit, sedih, takut, kecewa, tegang, rindu, marah, putus asa, dan lega. Kelebihan lain dari cerita ini yaitu setiap tokoh memiliki karakternya masing-masing dan dijelaskan pula latar belakang mengapa tokoh tersebut memiliki karakter seperti itu sehingga pembaca dapat memahami penokohan dari novel ini.

D. Kekurangan

Narasi dalam novel ini selain sebagai kelebihan juga sebagai kekurangan. Narasi yang terlalu panjang dan sedikit dialog membuat pembaca, setidaknya saya, menjadi bosan. Terdapat beberapa narasi yang panjang hanya dibaca tanpa memahami isinya yang membuat harus membaca ulang karena didera rasa bosan. Alur cerita yang maju mundur serta flashback yang berlarut-larut terkadang membuat bingung atau lupa sampai bagian atau tahun mana ceritanya. Adanya adegan seks bebas antara Laut dan Anjani serta Asmara dan Alex menurut saya agak menggangu karena tidak berpengaruh pada jalannya cerita ini dan adanya adegan ini mengesankan kegiatan tersebut seolah biasa dan umum dilakukan oleh aktivis atau mahasiswa. Kalaupun adegan tersebut dihapus atau dihilangkan menurut saya tidak akan mengganggu jalannya cerita.  

E. Penutup

Secara keseluruhan novel ini sangat layak dibaca oleh kita sebagai generasi muda agar tidak melupakan sejarah kelam negara kita dan mereka yang sudah berjuang memperbaiki Indonesia yang lebih beradab. Dari novel ini banyak pengetahuan yang kita dapatkan tentang perjuangan para aktivis orde baru berusaha membangun Indonesia yang lebih baik, tentang situasi sulit yang terjadi dan dihadapi para aktivis pada era tersebut, tentang kejamnya penyiksaan yang dialami meraka, tentang penantian dan penyangkalan yang dialami keluarga korban aktivis yang hilang, serta tentang perjuangan menegakan keadilan untuk mereka yang sampai sekarang belum ada kejelasan.  

“Si Anak Kuat” Karya Tere Liye diresensi oleh Diajeng Afti Nur Intan

A. Identitas Buku

Judul Buku : Si Anak Kuat

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit   : 2018

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah Halaman : 397 halaman

Dimensi Buku : 13,5 x 20,5 cm

B. Isi Resensi

Amelia namanya. Ya! Namanya hanya satu kata, tidak lebih. Anak bungsu dari 4 bersaudara pasangan suami istri Bapak Syahdan dan Ibu Nurmas. Kakak tertuanya bernama Eliana atau kerap di sapa ‘Eli’ yang dikenal sebagai ‘Si Anak Pemberani’. Kakak keduanya bernama Pukat yang dikenal sebagai ‘Si Anak Jenius’. Terakhir, kakak ketiganya bernama Burlian yang dikenal sebagai ‘Si Anak Spesial’. Semua kakak-kakaknya juga memiliki kisah di bukunya masing-masing. Namun kali ini kita hanya akan fokus pada kisah sang tokoh utama buku ini saja, yaitu Amelia yang dikenal sebagai ‘Si Anak Kuat’. Bukan kuat fisik, melainkan kuat terhadap pemahaman nilai kehidupan dan keteguhan hati.

Namanya Amelia, tapi semua orang kerap memanggilnya ‘Amel’. Ia bersama keluarganya tinggal disebuah perkampungan indah. Persis di Lembah Bukit Barisan. Dilingkari oleh hutan lebat dibagian atasnya. Penduduknya sebagaian besar bermata pencaharian sebagai seorang petani kopi dan juga karet yang memang warisan turun temurun.  

Kampung tempat Amel tinggal memang masih memiliki banyak keterbatasan, salah satunya dalam bidang pendidikan. Hanya ada satu sekolah dasar di kampungnya. Muridnya pun sedikit dapat dihitung jari dan itupun hanya ada satu guru  yang mengajar. Mereka memanggilnya, Pak Bin. Salah seoarang yang sangat berjasa dalam kisah Amelia nantinya.

Sebenarnya ada satu guru PNS  lagi yang merangkap menjadi kepala sekolah, tapi beliau tinggal di Kota Kabupaten. Kadang datang, namun lebih seringnya tidak.  “Lantas bagaimana cara Pak Bin mengurus enam kelas sekaligus?” Pertanyaan yang mungkin terbesit dalam benak kita. “Dengan trik ajaibnya”, begitu Amel menjawabnya.  

Di sekolah Amel mempunyai 3 teman dekat. Pertama ada Maya si paling cerewet dan penggemar no satu Paman Unus (adik dari Mamaknya Amel). Kedua ada Chuck Norris si paling nakal dan gemar menggambar. Terakhir ada Tambusai si paling semangat dalam segala hal dan humoris. Fakta menariknya mereka semua adalah anak bungsu sehingga sering merasa senasib sepenanggungan.  

Oh iya, di kampung Amel ada tradisi ‘menunggu rumah’. Di mana anak bungsu harus menetap di rumah orang tuanya.  Jadi ketika seluruh kakak-kakaknya pergi merantau jauh, menyisakan orang tua yang semakin lanjut usia, anak bungsu harus tinggal di rumah agar bisa merawat mereka. Sekalipun telah berkeluarga, anak bungsu bersama suami atau istrinya tetap tinggal di rumah orang tua, ‘menunggu rumah’. Dan hal itu selalu membuat Amel merasa kesal ketika memikirkannya.

Keterbatasan pada fasilitas pendidikan membuat keterbatasan juga mengenai ilmu pengetahuan yang ada. Banyak penduduk kampung yang lebih memilih bertani atau menangkap ikan di sungai dibandingkan dengan sekolah. Menurut meraka ijazah tak akan dapat dimakan, dengan kata lain tidak berguna. Sungguh miris bukan.

Amel merupakan anak yang memiliki mimpi-mimpi hebat dan pemahaman yang kuat dibanding dengan teman-teman ataupun saudara-saudaranya. Ia sangat peduli terhadap kampungnya. Oleh karena itu ia bersama 3 temannya yaitu Maya, Chuck Norris, Tambusai, dan dibantu juga dengan Paman Unus mencoba untuk membuat sebuah perubahan.  

Di awali dengan kertarikannya akan pembicaraan dengan Pak Bin dan Paman Unus mengenai cara bertani para penduduk kampung yang hanya mengikuti leluhurnya saja sehingga tidak ada peningkatan pada hasil panennya. Padahal di kota-kota besar sudah banyak menggunakan teknik modern seperti yang sederhananya adalah dengan menyemai bibit ataupun yang paling rumitnya dengan kultur jaringan yang membutuhkan perlatan laboratorium. Hasil panen yang di dapat sudah tentu berkali lipat lebih banyak.  

Memang tidak mudah membuat penduduk kampung untuk merubah cara bertani mereka yang memang sudah warisan turun temurun. Kurangnya ilmu pengetahuan sudah tentu juga menjadi salah satu faktornya. Namun, bergantungnya kehidupan para penduduk kampung dengan ladang kebun mereka menjadi faktor utamanya karena apabila mereka ingin mengubah cara bertani yang ada saat itu. Maka akan dimulai dari awal lagi, yaitu penanaman bibit baru dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mereka mendapatkan hasil yang diinginkan. Sulit memang. Namun bukan berarti hal tersebut tidak bisa terwujudkan.  

Suatu malam ada pertemuan rutin para tetua kampung di kediaman Amel. Pembahasannya beragam dimulai dari membahas mengenai kabar masing-masing, ladang, harga pupuk, harga kopi dan karet hingga membahas mengenai gagal panen kopi dari salah seoarang penduduk kampung. Dalam pertemuan tersebut ada yang dapat langsung diputuskan solusinya, adapula yang masih menggantung, tanpa solusi.

Ketika pertemuan hendak ditutup, tiba-tiba Amel yang memang sedari tadi berada disitu dan menyimak pembicaraan mengacungkan tangan. Ia memberikan sebuah usulan mengenai masalah gagal panen kopi dari salah seorang penduduk kampung. Ia mengusulkan untuk membeli ladang yang gagal panen tersebut dengan kas kampung lalu mencoba untuk menanaminya kembali dengan menyemai bibit biji kopi kualitas baik yang sore tadi ia dapatkan ketika berpetualang bersama dengan Maya serta Paman Unus ke tengah hutan.

Awalnya tentu para tetua kampung tidak setuju dengan pendapat Amel karena itu berisiko besar dan melibatkan kas kampung yang secara tidak langsung melibatkan juga seluruh penduduk kampung untuk menyetujuinya. Namun dengan keteguhan hatinya akhirnya Amel dapat meyakinkan para tetua kampung agar mencobanya terlebih dahulu untuk membawa masalah dan usulan tersebut pada musyawarah besar di balai kampung nanti.

Sembari menunggu waktu musyawarah besar dilaksanakan, Amel bersama Maya, Chuck Norris, Tambusai, dan Paman Unus juga dengan 4 pemuda tanggung kampung membuat tempat untuk menyemai biji kopi di lahan belakang sekolah atas izin Pak Bin. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah proses penanamannya nanti.

Banyak penduduk kampung yang sudah mendengar mengenai usulan Amel tersebut dan mereka tidak menyetujuinya karena memang berisiko besar. Namun, dengan keteguhan dan semangat Amel beserta teman-temannya akhirnya semua penduduk kampung setuju untuk menggunakan kas kampung ketika musyawarah besar. Hal tersebut tentu saja tidak  mudah karena Amel dan teman-temannya harus berkeliling kampung, mengunjungi satu persatu penduduk kampung untuk memberikan pemahaman mengenai menyemai biji kopi, hasil yang akan diperoleh, serta risiko yang akan ditanggung.

Mungkin awalnya semua orang akan berpikir itu akhir dari kisah Amelia ‘Si Anak Kuat’. Tapi bukan itu akhir ceritanya. Bahkan cerita mengenai penanaman biji kopi yang merupakan rencana besar dan mimpi awal Amel untuk perubahan di kampungnya ternyata gagal. Banjir bandang meluluhlatahkan beberapa rumah penduduk serta ladang-ladang, termasuk ladang kopi yang merupakan mimpi Amel akan awal perubahan di kampungnya. Tak ada korban jiwa memang, namun menyisakan kesedihan mendalam bagi seluruh penduduk kampung terutama untuk Amelia. Kisahnya belum berakhir begitu saja tentunya. Bahkan itu merupakan kisah awal Amelia untuk menjadi lebih kuat dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.

Akhir kisah dari buku ini menceritakan Amelia atau kerap di sapa dengan panggilan ‘Amel’ yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpi hebatnya. Ia menamatkan seluruh sekolah menengahnya di Kota Kabupaten, lantas menyusul kakaknya Pukat kuliah di Belanda dan setelahnya kembali lagi ke kampung halamannya dengan menjadi dosen di Universitas Terbuka juga menjadi guru tamu  diberbagai institusi pendidikan, termasuk SD, SMP, dan SMA.  

Di akhir bukunya Amel mengatakan, “Aku akan memastikannya. Penduduk lembah juga berhak atas kehidupan yang lebih layak dan bekecukupan. Aku akan membantunya. Aku telah kembali dengan kekuatan penuh”. Memang pantas ia dikenal sebagai ‘Si Anak Kuat’. Bukan kuat fisik, namun kuat dalam pemahaman dan keteguhan hatinya.

C. Kelebihan

Penamaan tokoh yang unik seperti Chuck Norris yang diambil dari nama aktor film aksi yang serinng diputar pada televisi atau Tambusai yang namanya diambil ketika bapaknya sedang membaca koran bungkus makanan yang ternyata nama tersebut merupakan salah satu pahlawan besar.

Penggambaran tempat yang cukup jelas sehingga mempermudah pembaca dalam membuat ilustrasi sendiri. Seperti ketika penggambaran kampung tempat tinggal Amel yang dijelaskan berada persis di Lembah Bukit Barisan. Dilingkari oleh hutan lebat dibagian atasnya.

Konflik yang ringan namun mempunyai pesan moral yang mendalam. Seperti ketika Amel bertengkar dengan kakaknya Eli karena selalu kena marah namun ternyata hal tersebut merupakan bukti sayang kakaknya.

D. Kekurangan

Terdapat beberapa kata yang menggunakan bahasa asing sehingga membingungkan para pembaca karena tidak disertakan artinya. 

Tidak diberikan gambaran mengenai umur para tokoh sehingga para pembaca cukup bingung dan menebak-nebak karena penasaran dengan para tokoh yang masih kecil namun memiliki pemikiran yang luar biasa. 

E. Penutup

Buku ini merupakan buku yang sangat menarik sekali bagi saya. Banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya seperti pentingnya sebuah pendidikan, hebatnya sebuah kesabaran, serta luar biasanya sebuah keteguhan hati untuk membuat perubahan besar. Selain itu, banyak sekali kata-kata motivasi yang sangat bermakna seperti “Siapa pun yang tidak  mengambil langkah pertama untuk memulai sesuatu, maka dia tidak akan pernah melihat hasil sesuatu tersebut. Tidak akan pernah.”

Penulis : Kementerian Pengembangan Literasi dan Keilmuan

Editor : Annisa Nurul Hakim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Generated by Feedzy